Jakarta,lensamedia.asia-Data Rhodium Group, sebuah lembaga riset di Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa sejak tahun 2024 produsen mobil listrik Tiongkok memilih lebih banyak berinvestasi di luar negeri daripada di dalam negeri.
Menurut Rhodium, sikap yang ditempuh para produsen karena persaingan domestik yang ketat, sehingga membuat mereka hampir mustahil untuk meraih keuntungan.
Sebenarnya produsen mobil telah diuntungkan dari subsidi dan kebijakan Pemerintah Tiongkok lainnya selama bertahun-tahun yang bertujuan menjadikan Tiongkok sebagai kekuatan otomotif global dan pemimpin dunia dalam kendaraan listrik. Tetapi, kelebihan kapasitas dan pemotongan harga yang agresif telah membuat industri ini terpuruk.
Produsen mobil di negara Tirai Bambu ini terjebak dalam perang harga yang tak henti-hentinya, yang memperdalam tekanan deflasi.
Sementara itu, kekhawatiran akan membanjirnya mobil murah Tiongkok telah memicu ketegangan perdagangan dengan mitra-mitra utama—beban yang tak mampu ditanggung oleh ekonomi berbasis ekspor di tengah tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Lembaga riset AS mencatat penanaman modal asing langsung Tiongkok dalam rantai nilai kendaraan listrik melonjak ke rata-rata tahunan sebesar $30,4 miliar pada periode 2022-2024 dari $8,5 miliar pada periode 2018-2021.
Sementara itu, nilai investasi domestik Tiongkok dalam rantai nilai kendaraan listrik anjlok dari $94 miliar pada tahun 2022—puncaknya—menjadi hanya $15 miliar tahun lalu.
“Pada tahun 2024, investasi kendaraan listrik oleh perusahaan Tiongkok lebih besar di luar negeri daripada di dalam negeri untuk pertama kalinya. Sebuah reorientasi modal yang bersejarah karena perusahaan mencari profitabilitas di luar pasar domestik yang menghadapi ‘involusi’,” demikian menurut laporan tersebut, dikutip Reuters, Selasa (30/9/2025).

