Jakarta — Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa pembentukan Tim Akselerasi Transformasi Polri bukanlah upaya untuk menandingi Komite Reformasi yang akan dibentuk Presiden Joko Widodo. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara eksklusif bersama Rosi di Kompas TV.
“Saya kira tidak ya… Bahwa kita tidak pernah ingin membentuk tim tandingan,” ujar Kapolri.
Namun demikian, pengumuman tim ini langsung memunculkan skeptisisme publik. Pertanyaan utama muncul: bagaimana reformasi bisa dijalankan oleh orang-orang yang dianggap bagian dari masalah yang membuat Polri harus direformasi? Akibatnya, banyak pihak menilai langkah ini tidak cukup untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Kapolri kemudian menjawab bahwa reformasi harus dimulai dari internal.
“Kalau kita enggak mereform diri kita sendiri, seberapa hebat pun komite atau komisi dibentuk, ya percuma. Justru dengan tim yang punya semangat sama, perbaikan bisa berjalan sejalan dengan harapan Presiden maupun publik,” tegasnya.
Meski begitu, keraguan publik tetap ada. Di sisi lain, reformasi yang dipimpin figur lama berisiko dipandang hanya sebagai langkah aman untuk menjaga status quo.
Selain itu, sejarah memberi alasan tambahan mengapa masyarakat ragu. Upaya reformasi Polri sebelumnya sering berhenti di level struktural tanpa mengubah budaya kerja. Oleh karena itu, publik pun bertanya apakah janji kali ini benar-benar berbeda atau sekadar retorika baru.
Keberhasilan tim akselerasi sangat ditentukan oleh bukti nyata. Pemberantasan pungli, penindakan oknum, profesionalisme dalam menangani kasus, dan keterbukaan informasi publik adalah beberapa indikator yang bisa langsung dirasakan masyarakat. Tanpa itu, sulit membangun kembali kepercayaan yang hilang.
Pada akhirnya, bola ada di tangan Kapolri. Publik menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji. Pertanyaan besarnya: apakah reformasi benar-benar akan dimulai dari kasus internal yang menyakitkan, atau hanya berhenti pada pencitraan?
Jakarta, Lensa Media
Sumber : https://www.youtube.com/live/HKX7MXJR36A

