SIDOARJO, LENSA MEDIA — Operasi pencarian korban ambruknya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khozyni, Buduran, Sidoarjo, memasuki hari ketiga pada Rabu (1/10) malam. Tim gabungan sudah mengevakuasi 108 orang.
Dari jumlah itu, lima orang meninggal dunia. Sebanyak 103 korban lainnya selamat, namun mengalami luka dengan tingkat keparahan berbeda. Mereka segera mendapat perawatan di rumah sakit terdekat.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menyebut fase golden time berakhir pada Kamis (2/10) pukul 16.00 WIB. Selama periode itu, tim menggunakan peralatan seperti search cam dan wall scan. Namun, tidak ada tanda kehidupan yang ditemukan.
“Setelah golden time terlewati, peluang menemukan korban selamat semakin kecil. Namun operasi tidak akan dihentikan hingga seluruh korban ditemukan,” kata Kepala Basarnas.
Dengan berakhirnya fase krusial tersebut, tim mulai mempertimbangkan penggunaan alat berat. Crane dan ekskavator disiapkan untuk mempercepat evakuasi. Proses dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan risiko tambahan.
Hingga kini, diperkirakan masih ada puluhan orang yang terjebak di reruntuhan. Proses evakuasi melibatkan Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat sekitar yang membantu logistik di lokasi.
Tragedi runtuhnya bangunan Ponpes Al Khozyni juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Evaluasi terhadap standar keamanan dan konstruksi bangunan pendidikan berasrama akan segera dilakukan.

