Oleh: Entang Sastraatmadja

CITRA “beras Bulog” di benak publik, memang memiliki sejarah kelam di masa lalu. Kita ingat di era Orde Baru, banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menukar beras pembagiannya dengan uang tunai. Mereka tahu persis, beras yang dibagikannya oleh Bulog merupakan beras dengan kualitas rendah. Citra semacam itu, ternyata masih melekat erat dalam masyarakat di negeri ini.

Hal yang demikian, rupanya masih sering kita temukan, sekalipun kini bangsa ini tengah melakoni era reformasi. Belum lama ini ramai didiskusikan temuan Ombudsman RI yang mensinyalir 300 ribu ton beras di gudang Bulog terancam rusak sehingga membuka peluang terjadinya turun mutu. Selain itu diangkat pula adanya beras di gudang Bulog yang bau apek dan berwarna kekuning-kuningan.

Dalam kaitannya dengan Program Stabilisasi Pasokan Harga Pangan (SPHP), terekam pula ada keluhan masyarakat yang menyebut kualitas beras SPHP yang kurang baik. Ada laporan beras SPHP rasanya pera dan tidak pulen.

Beras SPHP yang kurang baik dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti:

  • Kualitas beras. Beras SPHP yang kurang baik dapat memiliki kualitas yang rendah, seperti banyaknya beras yang patah-patah atau tidak utuh.
  • Kutu pada beras. Beras SPHP yang disimpan terlalu lama di gudang Bulog dapat ditemukan berkutu, sehingga kurang diminati oleh masyarakat.
  • Harga tidak kompetitif. Harga beras SPHP yang tidak kompetitif dengan beras lain di pasaran dapat membuat masyarakat kurang tertarik untuk membelinya.

Contoh spesifik dari beras SPHP yang kurang baik adalah pertama, beras SPHP yang beredar di Kutai Timur. Beras SPHP di Kutai Timur memiliki kualitas yang dinilai kurang baik oleh masyarakat, sehingga tidak banyak beredar di daerah tersebut.

Kedua, keuntungan yang tipis bagi distributor. Keuntungan yang tipis bagi distributor, yaitu sekitar Rp440 per kilogram, membuat banyak distributor memilih berhenti mendistribusikan beras SPHP.

Dihadapkan pada hal seperti ini, sangatlah tepat Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan dan menjamin kualitas  beras SPHP yang beredar di pasar bersih dan bebas kutu. Bos Bulog menyatakan beras tersebut mendapatkan pemeliharaan rutin sejak di gudang Bulog. Pemeliharaan dilakukan secara harian, mingguan, bulanan, kuartalan, bahkan per semester.

Dengan pemeliharaan yang demikian, Perum Bulog menjamin beras-beras yang dihasilkannya, benar-benar sehat, bersih, tidak berkutu, dan tidak berkuman. Jaminan ini penting disampaikan kepada publik, karena ketika Komisi IV DPR RI melakukan kunjungan kerja ke salah satu gudang Bulog di Jogjakarta beberapa bulan lalu, masih ditemukan adanya beras berkutu.

Jujur diakui, ditemukannya berisi beras berkutu di gudang Bulog, karena beberapa kemungkinan alasan:

Pertama, penyimpanan yang terlalu lama. Beras yang disimpan dalam jangka panjang lebih rentan terhadap serangan hama, termasuk kutu beras.

Kedua, telur kutu yang menempel. Telur kutu dapat menempel pada beras dan menetas setelah beberapa bulan, menyebabkan beras menjadi berkutu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *