PRESIDEN Prabowo menggandeng mantan seniornya di Akabri, Djamari Chaniago, untuk menduduki jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) sisa masa jabatan 2024-2029. Prabowo dan Djamari telah berdamai dari tragedi 1998.
Dalam perombakan kabinet gelombang ketiga sejak Prabowo menjabat Presiden pada 20 Oktober 2024, yang memantik perhatian para pengamat adalah “ditariknya” Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam menggantikan posisi Budi Gunawan.
Djamari Chaniago yang merupakan senior Prabowo di Akabri-kini bernama Akademi Militer—sempat menjadi sekretaris Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yang merekomendasikan pemecatan Prabowo dari ketentaraan pada 1998. DKP menganggap Prabowo terlibat dalam penculikan sejumlah aktivis pro-demokrasi.
Peneliti Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS), Edna Caroline Pattisina menilai, penunjukan Djamari Chaniago sebagai Menko Polkam menunjukkan bahwa Presiden Prabowo bukan seorang pendendam.
“Presiden Prabowo tetap berusaha untuk tidak mengutamakan dendam, tetapi masih merujuk pada pengalaman dan hubungan personalnya di masa lalu,” kata Edna seperti dikutip Kompas.com.
Edna mengutarakan, kedekatan personal antara Prabowo dan Djamari sudah terjalin sejak masa pendidikan di Akabri. Prabowo yang masuk Akabri pada 1973, kemudian tinggal kelas dan bergabung dengan angkatan 1974 yang seangkatan dengan Sjafrie Sjamsoeddin. Sementara Djamari yang merupakan letting 1971 adalah ‘pengasuh’ letting 1974, yang berarti ia memiliki kedekatan personal dengan Prabowo dan Sjafrie.
Menurut Edna, rekonsiliasi pribadi antara Prabowo dan Djamari juga tecermin ketika Djamari bergabung ke Partai Gerindra besutan Prabowo. Merujuk pada circle polkam di mana Prabowo, Djamari, dan Sjafrie merupakan teman-teman lama, bisa diduga tidak ada suara yang berbeda dalam membuat kebijakan-kebijakan terkait Polkam.
Dalam pernyataan seusai pelantikan di Istana Kepresidenan, Djamari mengaku menerima posisi menteri dalam usia sepuh karena diminta Prabowo menggunakan sisa umurnya untuk berbakti kepada bangsa dan negara.
“Berapa umur saya, ada yang tahu? Sebentar lagi 77 tahun. Gunakan sisa umur kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk kepentingan bangsa dan negara. Tidak ada istilah-istilah lain.” kata Djamari.
“Kita harus bersatu, tidak ada lagi cerita lain! Kalau kita ingin menjadi bangsa yang baik, mari kita bersatu,” tegasnya.
Ia sedikit membocorkan program kerjanya, utamanya terkait revitalisasi organisasi Kemko Polkam. Menurutnya, program Menko Polkam di masa kepemimpinannya tidak lepas dari program-program yang sudah ada.
“Program itu sebenarnya sudah ada, kira-kira 50 persen untuk program ke dalam (internal), dan 50 persen program keluar (eksternal). Tergantung nanti bagaimana situasi yang berkembang ke depan, baru akan kita bicarakan supaya kita bisa mengkoordinasikan semua kegiatan dari kementerian-kementerian yang berada di bawah koordinir kita,” terangnya.

