Khudori menyampaikan, merujuk data Bulog pada 11 September 2025, jumlah mitra penyalur mencapai 31.477 unit. Ini jumlah yang besar. Masalahnya, karena penyalur ini menyasar konsumen akhir membuat serapannya tidak besar. Dengan penyaluran harian saat ini berarti tiap outlet hanya menjual 184 kilogram beras per hari.

“Kalau penjualan harian tidak mungkin dilipatgandakan, untuk menaikkan 2 kali volume penyaluran operasi pasar berarti harus menambah outlet baru setara dengan yang ada saat ini,” ujarnya.

Menambah outlet baru sebesar itu, kata dia, tentu tidak mudah. Sementara waktu yang tersisa kian sempit.

“Inilah konsekuensi logis dari operasi pasar yang bukan menyasar ke pasar. Inilah hasil dari operasi pasar yang tidak menggandeng pedagang di pasar grosir atau pasar induk, distributor, dan pedagang serta penggilingan,” ucapnya.

Mengubah Mekanisme Operasi Pasar

Anggota Komite Ketahanan Pangan INKINDO ini menekankan, karena itu, pemerintah sebaiknya mengubah mekanisme operasi pasar. Agar volume penyaluran besar.

Ia menjelaskan, operasi pasar pada dasarnya mengguyur beras ke pedagang di pasar. Bukan menggandeng mitra guna melayani konsumen akhir seperti saat ini. Karena mengguyur beras ke pedagang di pasar, indikator berhasil-tidaknya operasi pasar adalah ketersediaan dan harga beras di pasar. Kalau ketersediaan terbatas dan harga beras naik/tinggi, operasi pasar belum berhasil.

Operasi pasar, sesuai namanya, sambung Khudori, berarti menggunakan pasar sebagai piranti penting penyaluran. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa integrasi pasar beras di Indonesia tinggi. Pasar beras di berbagai wilayah saling terkait satu sama lain. Ini terutama tampak dari sisi harga. Integrasi pasar ditandai oleh keterkaitan harga antar pasar beras regional, baik pasar grosir maupun pasar eceran dalam jangka waktu panjang. Pergerakan harga antarwaktu, tempat, dan pasar produsen-konsumen kian kompak.

“Keterkaitan harga itulah yang memungkinkan harga di pasar, terutama pasar eceran, lebih cepat turun apabila ketersediaan beras di pasar grosir dipenuhi atau dijenuhi. Terutama di pasar-pasar grosir yang menjadi penentu harga, baik di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) maupun pasar grosir Medan, Surabaya, Makassar, Palembang, dan Banjarmasin. Kalau tidak turun, setidaknya harga bisa ditahan untuk tidak naik,” tuturnya.

Meskipun perannya tidak sebesar dulu, PIBC adalah salah satu pasar grosir dengan rerata volume perdagangan yang besar: 2.500-3.500 ton beras per hari. Perdagangan beras antar pulau dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi mengandalkan PIBC, tetapi lebih banyak langsung antar pasar grosir. Ini terjadi karena sempitnya akses menuju PIBC dan berkembangnya infrastruktur transportasi dan teknologi komunikasi.

Khudori tak menafikan pemerintah menggandeng penggilingan, pedagang besar, distributor, dan pedagang grosir di pasar induk dalam operasi pasar membuat Bulog dilematis. Sebagai pemain mereka bisa ambil untung besar dan membuat operasi pasar gagal. Celah ambil untung muncul lantaran beras dilepas Bulog di bawah harga pasar. Jika dioplos dengan beras lain atau diganti kemasan, lalu dijual dengan harga pasar untungnya lumayan besar.

Namun demikian, kata dia, dengan kemasan SPHP 5 kilogram mengoplos atau ganti kemasan memerlukan upaya yang luar biasa. Hanya mereka yang sejak awal niat dan nekat yang berani melakukan itu. Apalagi, intensitas Satgas Pangan mengawasi pasar seperti saat ini, celah berperilaku culas kian sempit. Intinya, pengawasan ketat harus dilakukan. Siapa pun yang melanggar harus ditindak tegas. Tidak ada toleransi atas hal itu. Yang penting, pelaku operasi pasar harus diberikan margin yang memadai.

Pegiat AEPI ini menyebutkan, perubahan mekanisme penyaluran ini diperlukan karena dua hal. Pertama, ada keperluan penyaluran CBP dalam jumlah besar. Agar stok beras di gudang Bulog sebesar 3,9 juta ton tidak susut volume, turun mutu, dan membebani biaya pengelolaan/penyimpanan.

Kedua, saat ini 73,2 persen beras (baik sisa impor 2024 maupun pengadaan dari dalam negeri) di gudang Bulog berusia lebih 4 bulan. Beras ini tidak bisa disimpan berlama-lama. Kalau stok beras akhir tahun nanti besar, residu risiko juga besar. (Rif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *