Presiden AS, Donald Trump menandatangani kebijakan biaya baru visa H-1B.

Jakarta,lensamedia.asia-Kebijakan Presiden AS, Donald Trump terhadap visa H-1B meruntuhkan strategi industri teknologi informasi (TI). Salah satunya sektor TI India yang bernilai $283 miliar harus merombak strategi puluhan tahunnya untuk merotasi talenta terampil di proyek-proyek AS, menyusul langkah Trump akan mengenakan biaya $100.000 untuk visa H-1B baru mulai Minggu, 21 September 2025.

Hal itu disampaikan para veteran teknologi, analis, pengacara, dan ekonom kepada Reuters, seperti dikutip, Senin (22/9/2025).

Menurut mereka, sektor TI yang menghasilkan 57 persen dari total pendapatannya dari pasar AS, telah lama diuntungkan oleh program visa kerja AS dan alih daya perangkat lunak, serta layanan bisnis—sebuah isu kontroversial bagi banyak warga AS yang kehilangan pekerjaan akibat pekerja yang lebih murah di India.

Data Pemerintah AS menunjukkan bahwa India sejauh ini merupakan penerima manfaat terbesar visa H-1B tahun lalu, mencakup 71 persen dari penerima yang disetujui Pemerintah AS. Sementara Tiongkok berada di posisi kedua dengan 11,7 persen.

Langkah Trump untuk merombak program visa H-1B akan memaksa perusahaan TI dengan klien seperti APPLE (AAPL.O), JP Morgan Chase (JPM.N), Walmart (WMTN), Microsoft (MSFT.O), Meta (META.O), dan Alphabet (GOOGL.O) Google untuk menghentikan rotasi di dalam negeri, mempercepat pengiriman ke luar negeri, dan meningkatkan perekrutan wara negara AS dan pemegang kartu hijau.

Mengandaskan Impian Kerja di AS

Mantan CEO perusahaan alih daya TI Zensar Technologies, Ganesh Natarajan berpandangan, kebijakan Trum terhadap visa H-1B akan mengandaskan impian bagi para calon pekerja untuk bekerja di AS. Ia memperkirakan perusahaan-perusahaan akan membatasi perjalanan lontas batas dan lebih banyak melakukan pekerjaan di luar negara-negara seperti India, Meksiko, dan Filipina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *