Jakarta, Lensamedia – Narasi pergantian Kapolri semakin menguat dalam beberapa hari terakhir. Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah melayangkan surat presiden (supres) mengenai pergantian Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke DPR RI. Informasi yang dihimpun menyebutkan, ada dua nama perwira tinggi Polri berpangkat Komisaris Jenderal (Komjen) yang diajukan sebagai calon pengganti.

Dua nama tersebut berinisial D dan S, keduanya berpangkat bintang tiga. Menariknya, salah satu di antaranya baru saja memperoleh kenaikan pangkat menjadi Komjen, sehingga publik menilai ia menjadi kandidat kuat yang tengah dipersiapkan oleh Istana.

Meski kabar ini terus beredar luas, baik pimpinan maupun anggota Komisi III DPR RI belum memberikan tanggapan resmi. Konfirmasi mengenai isi supres juga belum pernah diungkapkan secara terbuka ke publik. Namun, di kalangan wartawan, informasi ini sudah berkembang sejak awal pekan, dan diperkirakan Istana akan segera membuat pengumuman resmi, baik pada akhir pekan ini maupun awal pekan depan.

Isu pergantian Kapolri tak lepas dari situasi keamanan nasional yang memanas. Gelombang aksi demonstrasi di Jakarta dan sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir berujung bentrokan antara massa dan aparat. Sedikitnya 10 orang dilaporkan meninggal dunia akibat kericuhan tersebut. Kondisi ini memunculkan desakan dari sejumlah elemen masyarakat agar Presiden Prabowo segera mengevaluasi kepemimpinan Kapolri. Aparat dinilai gagal mengantisipasi situasi dan justru bertindak represif di lapangan.

Dalam perbincangan di kalangan media, inisial D dan S disebut merujuk pada dua perwira tinggi yang kini tengah menduduki posisi penting di tubuh Polri. D disebut publik mengarah pada Komjen Dedi Praseyo, yang dikenal luas sejak menjabat Kadiv Humas Polri dan kini dipercaya sebagai Irwasum Polri. Sementara inisial S diduga mengarah pada Komjen Syahardiantono, yang baru saja naik pangkat menjadi Komjen dan saat ini menempati jabatan strategis sebagai Kabareskrim Polri.

Kedua nama ini dianggap memiliki pengalaman panjang dan rekam jejak yang cukup untuk menempati kursi Kapolri. Dedi Praseyo dikenal dengan gaya komunikasinya yang terbuka dan kedekatan dengan media, sementara Syahardiantono memiliki pengalaman dalam penanganan kasus besar serta tengah memimpin jajaran reserse kriminal.

Meski begitu, pergantian Kapolri bukan hanya soal pengalaman teknis, melainkan juga terkait pertimbangan politik dan stabilitas nasional. Presiden Prabowo diperkirakan akan memilih figur yang mampu meredam ketegangan sosial sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi Polri.

Sejauh ini, Istana belum memberikan komentar terkait siapa yang akan ditunjuk sebagai Kapolri berikutnya. Begitu juga dengan DPR RI, yang memiliki kewenangan untuk memberikan persetujuan terhadap calon Kapolri yang diajukan Presiden. Publik pun masih menunggu kepastian apakah isu pergantian Kapolri benar-benar akan segera terealisasi, atau hanya sebatas wacana yang berkembang di ruang publik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi baik dari pihak Istana maupun DPR. Namun, dengan semakin kuatnya desakan publik dan dinamika politik yang berjalan, keputusan mengenai kepemimpinan di tubuh Polri tampaknya tinggal menunggu waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *