Jakarta,lensamedia.asia-Beberapa ekonom asing mengatakan bahwa mereka memperkirakan pelonggaran yang lebih agresif oleh bank sentral Indonesia setelah penurunan suku bunga yang mengejutkan minggu ini, dengan tekad Gubernur Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan di Indonesia.
Ke-31 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan BI akan tetap pada kebijakannya, setelah bank sentral Indonesia pada Rabu kembali memangkas suku bunga acuannya (IDCBRR=ECI), sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal negara dan independensi bank.
Rupiah melemah 0,5 persen terhadap dolar AS pada sesi siang hari Kamis, merespons langkah BI yang tak terduga serta pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve. Indeks saham di Bursa Efek Indonesia mencapai rekor tertinggi baru berkat prospek pertumbuhan yang positif.
BI kini telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 bps dalam siklus pelonggaran yang dimulai pada September 2024, dan juga mencakup pelonggaran likuiditas dan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Dua belas ekonom mengatakan mereka kini memperkirakan lebih banyak pemangkasan suku bunga menyusul pelonggaran yang dilakukan pada Rabu, banyak di antaranya menambahkan pemangkasan baru ke dalam proyeksi mereka, sehingga proyeksi median menjadi 4 persen pada tahun 2026.
Sebelum keputusan BI, 21 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan suku bunga terminal sebesar 4,50 persen pada tahun depan.
“Gubernur BI Perry Warjiyo terdengar jauh lebih dovish dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya, menyatakan bahwa suku bunga bank (komersial) perlu diturunkan ‘segera’, seraya menambahkan bahwa BI terus mencari ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut,” ujar Brian Lee dari Maybank.
Maybank kini memperkirakan BI akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 125 bps lagi pada tahun 2026, sehingga menjadi 3,50 persen, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 4 persen. Lee juga menggarisbawahi komentar Perry Warjiyo tentang kerja sama BI dengan pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, menyusul kesepakatan BI untuk membantu mendanai beberapa program pemerintah.
Ekonom Barclays, Brian Tan, memprediksi BI akan menurunkan suku bunga acuan menjadi 4,25 persen tahun ini, dengan kemungkinan pemangkasan lebih lanjut karena sikap BI yang “sepenuhnya pro-pertumbuhan”. Proyeksi Barclays sebelumnya adalah suku bunga terminal sebesar 4,75 persen.
Salah satu kejutan pada Rabu adalah keputusan BI untuk memangkas suku bunga fasilitas simpanan (IDCBID=ECI), lebih dalam sebesar 50 bps menjadi 3,75 persen, sekaligus memangkas suku bunga fasilitas pinjaman (IDCBIL=ECI) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen. Kedua suku bunga tersebut berfungsi sebagai batas bawah dan atas suku bunga pasar uang antarbank (PUAB) overnight.
“Ini menandai pertama kalinya sejak 2016 BI akan mengelola apa yang disebut para ekonom sebagai “koridor asimetris” untuk suku bunga pasar uang,” imbuh Barclays.
Analis Citi Research, Helmi Arman, mengatakan keputusan tersebut kemungkinan terkait dengan kebijakan pemerintah untuk memindahkan lebih dari $12 miliar dananya dari BI ke bank-bank BUMN, yang akan menambah likuiditas dalam sistem perbankan. Citi mempertahankan proyeksi suku bunga acuan BI di 4,25 persen, tetapi memajukan ekspektasinya mengenai waktu pemangkasan suku bunga hingga kuartal keempat.
Sebelumnya, Citi memperkirakan BI akan memperpanjang pemangkasan hingga kuartal pertama 2026. (Rif).
